Sunday, August 1, 2010

sarung tangan ajaib

Posted by ammie at 7:23 PM
Reactions: 
Alkisah.....Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat
terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika,aku berkeinginan untuk mempunyai sebuah sapu tangan yang sesuai dengan keinginanku , yang mana semua gadis disekelilingku telah memiliki dan membawanya, Aku mencuri lima ribu rupiah dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau menghukum adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah sapu lidi di tangannya .”Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat sapu lidi itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku
mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah,jangan pukuli kakak, aku yang melakukannya!”

sapu lidi itu menghujam punggung adikku berkali-kali. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. sesudah itu, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sekarang sudah berani belajar mencuri dari rumah ini,hal yang sangat memalukan apa lagi,yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu memang layak mendapatkan hukuman! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan
kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis tersegug-segug. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”
Aku selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk mengaku. Bertahun-tahun sudah berlalu, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin.

Aku tidak pernah akan melupakan, rupa wajah adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia
lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas negri. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok , bungkus demi bungkus.
Saya mendengarkan pembicaraan kedua orang tuaku, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah
dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.” secara reflek ayah mengayunkan tangannya dan menganai pelipis wajah adikku dan berbicara dengan nada tinggi “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” . setelah itu ayah pergi keluar rumah,ayah mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang.

Kemudian aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang memerah, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.akhirnya aku telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan membawa beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang.
Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamar kosku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab,tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit obat pada lukanya dan membalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Sering kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela
keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa
yang akan dikirimkan?”
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar
“Tetapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!” “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang
gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah
kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang mangkuknya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memperhatikan kepadaku. Begitu susah kata yang keluar dari bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” dalam kesempatan yang paling berbahagia ini.
Didepan keramaian dan kerumunan acara perayaan ini, tak terasa aku menitikkan air mata antara senang ,sedih ,duka bahagia,rindu bercampur suka cita dengan kenangan lampau.


Dari kisah diatas kita banyak mendapat pelajaran(khusus untuk saya pribadi)

1. setetes kebaikan akan dibalas dengan seluas LAUTAN.
jadi,apa yang kita ragukan untuk selalu berbuat baik?ayo..kita taburkan benih-benih kebaikan dimulai dari lingkunga terkecil(red:keluarga) dimanapun, kapanpun, bagaimanapun keadaannya, dan tampa disadari kita akan memetik hasil yang berlipat ganda.

2. ketulusan dalam artian kasih-sayang yang sejati.

3.
Tak ada yang seindah persaudaraan.
saya teringat sosok bocah lugu yang sekarang tumbuh menjadi pria dewasa dan gagah.
dialah adik ku satu-satunya(kandung).
Saya akui ketika kecil saya sangat membenci adik saya,saya iri,saya merasa dinomor duakan,tak disayang,tak diperhatikan,apa(papa) ama(mama), amak(nenek) pilih kasih, saya berpikir dalam hati"apa ini kutukan untuk anak pertama?" kebiasaannya yang membuat saya naik pitan ! berantakin baju, sepatu super dekil&bau,minyak rambut berlimangan membuat idung saya benci bernafas,udah kalo disuruh belajar susah, mungkin dia udah dapet titik aman dari ama, kata mama engga apa-apa ga juara , asal adek naek kelas.(gubrak!!).

Hingga kemudian kami terpisah,dan saya mulai merasakan kerinduan dengan semua kebiasaannya yang aneh itu.rindu mengomelinya,bercanda,berkelahi,bermain...hukshuks...
Dan saya menyadari mengapa ia mendapatkan begitu banyak kasih sayang dari sekelilingnya. (red:poin 2).
aku sayang adek ku dan akan berusaha sebisa ku untuk membatunya menggapai cita-citanya.I promise!!!

Besok adek ku tes (MASUK perguruan tinggi). semoga lulus ya ALLAH...

ayo sekarang bagi siapa saja yang masih diberi kesempatan bertemu saudaranya(kakak or adik) hampiri mereka dengan senyuman dan berikan pelukan hangat katakan dengan lembut kalian sangat menyayangi mereka.

*Terima kasih untuk pak Iwe' yang telah memberikan cerita yang sangat bermakna ini.
oh ya yang ngasih judul saya sendiri . rada ga nyambung sama cerita isi .hehee :D (yang penting kan isinya)
semoga bermamfaat.

1 comments:

Sang Cerpenis bercerita said...

kadang antar saudara kandung memang sering timbul rasa benci dan iri.

 

_piece of nightstory_ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea