Wednesday, August 3, 2011

a cross ...

Posted by ammie at 7:29 PM
Reactions: 
Lagi-lagi kau kembali meradang. Sorot mata yang penuh ambisi. Meliuk-liuk tak karuan guna mendapat tiga lembar ribuan. Lihat si ibu itu, sudah tua kepalanya terantuk saat kau rem mendadak. Lihat wanita itu sedang hamil muda perutnya terlambung saat kau tancap gas dan roda menghantam poldur.
Lihat anak itu memakai seragam merah putih mungkin saja baru masuk sekolah beberapa minggu lalu, kau tak lihat wajahnya ketakutan ketika hendak naik dan kau langsung saja menggas dengan kecepatan super gila tampa mempersilahkan ia duduk terlebih dahulu.
Tak sedikitpun kulihat kecerahan diraut mu yang sembraut itu. tak ada.

Kau lihat semua orang disini sedang menjalani takdirnya. Aku kamu dan mereka. Kita sama. Dan setiap profesi bukannya punya etika tersendiri. Tak perlu bertahun tahun duduk di bangku sekolah, tak perlu pangkat sajana guna menjadi orang beretika. Ku perjelas bahasanya. Setidaknya kau menghargai orang-orang yang kau antar dan sudah selayaknya mereka mendapat perlindungan hingga sampai ke tujuan mereka. Bukan kah begitu seharusnya? Akupun sama. kita sama-sama melayani orang-orang yang kita butuhkan dan membutuhkan kita.

Lihat,,,hampir saja kau menabrak anak itu. Coba jika yang kau tabrak ternyata sepupumu, ponakanmu atau anakmu satu - satunya. Apa yang akan kau lakukan kemudian??
Aku muak!! dalam hati ini hanya ada kata makian untukmu.

sepertinya aku ingin bergegas menuju pelantarannya. pelantaran
pelindung dari kebuasan jalanan. Dan tentu saja dari mu.
Dari kejauhan ia tersenyum padaku, menatap aku yang setengah berlari menghampirinya.
"Selamat pagi curut" begitulah ia menyapa sambil mengacak-acak rambutku.
Dalam pelantaran terselip aroma kesejukan. Semilir angin menyapu kegundahanku. Gerakannya yang lembut membuat aku tak lagi was-was dan memasang tampang kusut.
ku tatap ia di spion. Ku pejamkan mata sembari berdoa. "Tuhan, jauhkanlah pelantaran ini dari mara bahaya, lindungilah ia dalam perjalanannya, berikan ia kebahagiaan sepanjang hidupnya. Walaupun nantinya ia tidak lagi bersamaku".
Ya, pagi ini untaian do'a yang ku hadirkan bukan lagi gerutu berkepanjangan.

4 comments:

ghost writer said...

aku sendiri tidak tau apa yang mereka pikirkan saat itu.terlalu rush.sedang anak-anak sendiri tidak.mereka meletakkan nyawa anak-anak seolah tayar mobil yang bergerak.rosak aja ganti terus.

hidup juga punya etika.

Gaphe said...

ya ampun segitu kejamnya dunia, terkadang orang nggak berempati ketika menyebrang jalan..

ada benarnya juga ketika diminta untuk mendahulukan pejalan kaki

Meutia Halida Khairani said...

hmm, ini jangan2 cerita tukang ojek yah? tapi tukang ojek kosan saya baik2 sih. hehe

Sang Cerpenis bercerita said...

kejam sekali...seharusnya lebih memperhatikan pejalan kaki.

 

_piece of nightstory_ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea